12
May 2025Kiai Ismail Shaleh
Kiai Ismail Shaleh merupakan putra dari Kiai Muhammad Shaleh Tambakagung. Ibunya bernama Nyai Thahiroh binti Jamaluddin Jaddih Bangkalan. Ia dilahirkan di Tambakagung pada hari Kamis tanggal 26 Jumadil Awal 1287 H. (27 Mei 1870 M.).
Terlahir dari nasab yang terhormat dan mencintai keilmuan, menjadikan Kiai Ismail senang dengan ilmu, ia belajar langsung kepada ayahnya sekitar 20 tahun lamanya. Setelah sekian lama belajar di rumah, ia menimba ilmu di Pesantren Jengkebuan Bangkalan asuhan Syaikhona Muhammad Kholil. Di sana Ia mendalami ilmu gramatika bahasa Arab, seperti Tashrif al-‘Izzy, Matan al-Jurumiyah, dan Alfiyah ibnu Malik.
Selain itu, Kiai Ismail juga mendalami ilmu fikih dengan berguru kepada Syaikh Nawawi (Syaikh Shaleh Tsani bin Muhammad bi Abi Ishaq Sampurnan Bungah Gresik), Kiai Abdullah bin Abdul Mannan Tremas, Kiai Kedungdoro Sepanjang Sidoarjo, dan Kiai Sidoresmo Surabaya, dan Syaikh Muhammad al-Rahbini al-Makki (bermukim di Makkah).
Kiai Ismail Shaleh merupakan pribadi yang zuhud dan wara’, di tengah-tengah masyarakat ia menjadi penasehat dalam berbagai problematika masyarakat. Kiai Ismail Shaleh yang terlahir dari keluarga yang mencintai ibadah, ilmu dan kebaikan, menjadikan pribadinya menghindari hal yang berbau politik praktis dan sangat dekat dengan kaum fakir miskin. Kala itu, Kiai Ismail pernah berkata sebagai nasehat yang ditujukan kepada menantunya Kiai Mahfudz:
“Berhentilah memikirkan suatu rencana, karena sebaik rencana ada di kuasa-Nya, maka bertakwalah kepada Allah jika (kamu) orang-orang yang beriman”.
Tulisan-tulisannya meliputi manuskrip salinan yang penuh dengan catatan penting, seperti Tashrif al-Izzy karya Syaikh Ali bin Mas’ud Taftazani, Durorul Bahiyah, Fathul Karim, Risalah Syarah Ibrahim al-Bajuri ala ‘Ilmi Tauhid, Matn al-Zubad fi al-Fiqh as-Syafi’I, Matan Al-AJurrumiyah, Syarh Alfiyyah Ibnu Malik karya Syaikhona Muhammad Kholil, Sullam Taufiq, dan Mabhats Zakat. Salah satu karyanya sendiri adalah dan Kitab Tauhid Bahasa Jawa. Apabila dilihat dari karya-karya tersebut, dapat disimpulkan bahwa Kiai Ismail memiliki kepakaran ilmu dalam bidang tata bahasa Arab, akidah, dan fikih.
Kiai Ismail Shaleh wafat pada hari Sabtu tanggal 14 Shafar 1387 H. (2 Juni 1968 M.) pada pukul 23.45. Terhitung umurnya genap 100 tahun (kalender Hijriyah) atau 97 tahun (Kalender Masehi).
0 Comments
Leave a Comment
Recent Posts
KH. MAHFUDZ BIN BASUNI
20 May 2025
KH. MUHAMMAD SHOLEH
18 May 2025
Kiai Ismail Shaleh
12 May 2025